Posted by: Qomar Fauzie | January 2, 2007

KH. Noer Ali, Putra Betawi yang Menjadi Pahlawan Nasional

Image Hosted by ImageShack.us

Bukan orang Bekasi namanya kalau dia tidak kenal KH. Noer Ali“. ya itu adalah ungkapan yang sering saya dengar dari para orang tua dulu. Sosok beliau sangat terkenal dimata orang bekasi karena ia menjadi ikon kebanggaan masyarakat betawi (khususnya di Karawang-Bekasi) pada masa revolusi. Beliau terkenal dengan sebutan “Singa Karawang Bekasi” atau ada juga yang menyebutnya “si Belut Putih”.Saya memang tidak banyak tau tentang sejarah beliau. Saya hanya dapat kisahnya dari para orang tua. Beliau adalah seorang ulama dan pemimpin pada zaman revolusi.

Kembali ke KH. Noer Ali, selain berjuang melawan penjajah beliau juga memiliki pesantren At- Taqwa yang berpusat di Kampung Ujung Harapan (dulu bernama Ujung malang) . Kini pesantren tersebut sudah memiliki lebih dari 50 Cabang. Dan saya adalah orang yang termasuk salah satu santri dicabangnya (At- Taqwa VIII). Cerita perjuangan beliau begitu banyak yang saya dapatkan baik dari para orang tua maupun guru (ceritanya seperti film-film kolosal ^_^). Ia selalu bisa lolos/menghilang ketika ditangkap belanda (mungkin karena itu kali ya dia berjuluk si belut putih), meriam-meriam belanda yang tidak bisa meledak, murid-muridnya yang kebal peluru karena amalan wirid dan ratibnya, dll. Beliau juga sangat terkenal di mata masyarakat non muslim karena sikap tolerannya, hal itu dibuktikan ketika beliau sangat melindungi masyarakat tiong hoa yang non Muslim dari penjajah Belanda.

Alhamdulillah pada 9 November 2006 akhirnya ia diangkat menjadi pahlawan Nasional, pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Nasional dan Tanda Kehormatan Bintang Maha Putra Adipradana.

Berikut sekilas dari biografinya


KH. Noer Ali

“Singa Karawang-Bekasi”
Sebagaimana biografi yang ditulis Ali Anwar, Noer Ali lahir tahun
1914 di Kp. Ujungmalang (sekarang menjadi Ujungharapan),
Kewedanaan Bekasi, Kabupaten Meester Cornelis, Keresidenan
Batavia. Ayahnya bernama H. Anwar bin Layu, seorang petani dan
ibunya bernama Hj. Maimunah binti Tarbin.
Meskipun ayahnya hanya sebagai petani, namun karena kemauan
keras untuk menuntut ilmu, Noer Ali pergi ke Mekah dengan
meminjam uang dari majikan ayahnya yang harus dibayar dicicil
selama bertahun-tahun. Selama enam tahun (1934-1940) Noer Ali
belajar di Mekah.
Saat di Mekah, semangat kebangsaannya tumbuh ketika ia merasa
dihina oleh pelajar asing yang mencibir: “Mengapa Belanda yang
negaranya kecil bisa menjajah Indonesia. Harusnya Belanda bisa
diusir dengan gampang kalau ada kemauan!”. Noer Ali pun “marah”
dan menghimpun para pelajar Indonesia khususnya dari Betawi
untuk memikirkan nasib bangsanya yang dijajah. Ia diangkat
teman-temannya menjadi Ketua Perhimpunan Pelajar Betawi di
Mekah (1937).
Sekembalinya ke tanah air, Noer Ali mendirikan pesantren di
Ujungmalang. Ketika Indonesia merdeka, ia terpilih sebagai Ketua
Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Cabang Babelan.
Tanggal 19 September 1945 ketika diselenggarakan Rapat Raksasa
di Lapang Ikada Jakarta, Noer Ali mengerahkan massa untuk hadir.
Dalam mempertahankan kemerdekaan, ia menjadi Ketua Lasykar
Rakyat Bekasi, selanjutnya menjadi Komandan Batalyon III
Hisbullah Bekasi. Bung Tomo saat itu dalam pidato-pidatonya
dalam Radio Pemberontak menyebutnya sebagai Kiai Haji Noer Ali
sehingga selanjutnya ia dikenal sebagai K.H. Noer Ali.
Peranan pentingnya muncul ketika terjadi Agresi Militer Juli 1947.
K.H. Noer Ali menghadap Jenderal Oerip Soemohardjo di
Yogyakarta. Ia diperintahkan untuk bergerilya di Jawa Barat dengan
tidak menggunakan nama TNI.
K.H. Noer Ali pun kembali ke Jawa Barat jalan kaki dan mendirikan
serta menjadi Komandan Markas Pusat Hisbullah-Sabilillah
(MPHS) Jakarta Raya di Karawang. Saat itu, Belanda menganggap
tentara Republik sudah tidak ada. Noer Ali meminta rakyat
Rawagede untuk memasang ribuan bendera kecil-kecil dari kertas
minyak ditempel di pepohonan.
Tentara Belanda (NICA) melihat bendera-bendera itu terkejut
karena ternyata RI masih eksis di wilayah kekuasaannya. Belanda
mengira hal itu dilakukan pasukan TNI di bawah Komandan Lukas
Kustaryo yang memang bergerilya di sana. Maka pasukan Lukas diburu dan karena tidak berhasil menemukan pasukan itu, Belanda
mengumpulkan rakyat Rawagede sekitar 400 orang dan kemudian
dibunuh. Peristiwa ini membangkitkan semangat rakyat sehingga
banyak yang kemudian bergabung dengan MPHS.
Kekuatan pasukan MPHS sekitar 600 orang, malang melintang
antara Karawang dan Bekasi, berpindah dari satu kampung ke
kampung lain, menyerang pos-pos Belanda secara gerilya. Di situlah
K.H. Noer Ali digelari “Singa Karawang-Bekasi”. Ada juga yang
menyebutnya sebagai “Belut Putih” karena sulit ditangkap musuh.
Sebagai kiai yang memiliki karomah, Noer Ali menggunakan tarekat
untuk memperkuat mental anak buahnya. Ada wirid-wirid yang
harus diamalkan, namun kadang-kadang anak buahnya ini tidak taat.
Tahun 1948 Residen Jakarta Raya mengangkat K.H. Noer Ali
sebagai Koordinator Kabupaten Jatinegara. Ketika terjadi Perjanjian
Renville, semua pasukan Republik harus hijrah ke Yogyakarta atau
ke Banten. Ia hijrah ke Banten melalui Leuwiliang, Bogor. Di
Banten, MPHS diresmikan menjadi satu baltalyon TNI di
Pandeglang. Saat akan dilantik, tiba-tiba Belanda menyerbu. Noer
Ali pun bersama pasukannya bertempur di Banten Utara sampai
terjadinya Perjanjian Roem-Royen.
Dalam Konferensi Meja Bundar yang mengakhiri Perang
Kemerdekaan 1946-1949, Noer Ali diminta oleh Mohammad Natsir
membantu delegasi Indonesia. Selain itu, ia pun masuk ke luar hutan
untuk melakukan kontak-kontak dengan pasukan yang masih
bertahan. Ketika pengakuan kedaulatan ditandatangani Belanda,
MPHS pun dibubarkan. Jasa-jasanya selama masa perang
kemerdekaan dihargai orang termasuk oleh A.H. Nasution, yang
menjadi Komandan Divisi Siliwangi waktu itu. Kemudian
dimulailah perjuangan K.H. Noer Ali dalam mengisi kemerdekaan
melalui pendidikan maupun melalui jalur politik.
Pemikiran Noer Ali untuk memajukan pendidikan di negeri ini,
sebenarnya sudah dimulai sejak ia mendirikan pesantren sepulang
dari Mekah. Setelah merdeka, peluang lebih terbuka. Tahun 1949, ia
mendirikan Lembaga Pendidikan Islam di Jakarta. Selanjutnya
Januari 1950 mendirikan Madrasah Diniyah di Ujungmalang dan
selanjutnya mendirikan Sekolah Rakyat Indonesia (SRI) di berbagai
tempat di Bekasi, kemudian juga di tempat lain, hingga ke luar
Jawa.
Di lapangan politik, peran Noer Ali memang menonjol. Saat Negara
RIS kembali ke negara kesatuan, ia menjadi Ketua Panitia Amanat
Rakyat Bekasi untuk bergabung ke dalam NKRI. Tahun 1950, Noer
Ali diangkat sebagai Ketua Masyumi Cabang Jatinegara.
Tahun 1956, ia diangkat menjadi anggota Dewan Konstituante dan
tahun 1957 menjadi anggota Pimpinan Harian/Majelis Syuro
Masyumi Pusat. Tahun 1958 menjadi Ketua Tim Perumus
Konferensi Alim Ulama-Umaro se-Jawa Barat di Lembang
Bandung, yang kemudian melahirkan Majelis Ulama Indonesia Jawa
Barat.

Tahun 1971-1975 menjadi Ketua MUI Jawa Barat. Di samping itu,
sejak 1972 menjadi Ketua Umum Badan Kerja Sama Pondok
Pesantren (BKSPP) Jawa Barat. Dalam perkembangan selanjutnya,
ia bersikap sebagai pendamai, tidak pro satu aliran. Dengan para kiai
Muhammadiyah, NU, maupun Persis, ia bersikap baik.***
- Prof. Dr. Nina H. Lubis, M.S. adalah Guru Besar Ilmu Sejarah
Fak. Sastra Unpad/Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan
Kebudayaan Lembaga Penelitian Unpad/Ketua Masyarakat
Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat.*

info lengkap dapat dibaca di:

http://www.presidensby.info/index.php/fokus/2006/11/09/1225.html

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/112006/09/0105.htm

Responses

ko, fotonya ga ada ya ? jadi pengen liat…

sudah saya tampilkan fotonya :D

gileee,,,,keren,,keren,,,saluuutt deeeh
lebih rajin lg ya cari biografi2 pahlawan yg lainnya :D

Al-Hamdulillah puji syukur kehadiral Alloh SWT, Pak Kyai sudah mendapatkan gelar kepahlawan akan tetapi seorang Kyai, Ulama, Guru ternyata memang Pak Kyai ga pernah minta gelar kepahlawanan itu. adanya penghargaan ini jelas bahwa perjuangan beliau tidak sia2 dan saya sebagai salah satu muridnya turut bersykur dan bergembira mempunyai sosok kyai & guru seperti Beliau, semoga Alloh SWT senantiasa memberikan penghargaan Dunia Akhirat kepada beliau. Amin

NB : Klo bisa kirim fotonya donk, ane kangen sama pak kyai
Salam,

ubaidillah

terima kasih atas kunjungan sdr. ubaidillah ke blog saya.
dimata masyarakat, beliau sangat terkenal sifat tawadhu’nya. Salah satu ucapan beliau yang saya ingat adalah”…kalau mau belajar fiqih belajarlah dengan habib A, kalau mau belajar tauhid belajarlah dengan kyai B, kalau mau belajar bahasa arab belajarlah dengan ustadz C, belajarlah kepada mereka semua karena saya tidak semua menguasai ilmunya….” Subhanallah betapa tawadhunya beliau meski dikenal sebagai ulama besar namun beliau tetap menghormati ulama-ulama lain.
Jadi memang benar bahwa gelar kepahlawanan itu sama sekali bukan beliau yang minta, gelar itu setau saya di usulkan oleh pemkot Bekasi kepada pemerintah pusat.
Beda ma orang sekarang, jangankan gelar pahlawan, untuk memburu gelar guru besar di Universitas aja mereka ngejar setoran ngarang buku sebanyak-banyaknya.
apalagi jika yang titelnya se ‘gambreng’ ga disebutin gelarnya aja mereka ngambek :P

good_good_good

ass, saya salut ternyata orang babelan ada jg yang jadi pahlawan nasional yaaa, saya bangga dengan perjuangan pak noer alie.

tentu saya bangga dengan pengangkatan beliau, sekaligus saya prihatin. apakah anda sadar bahwa banyak orang tiba2 berbicara membawa2 nama beliau, tiba2 nama KH Noer Alie menjadi buah bibir seklaigus aset pemerintah. maaf jika saya berkata bahwa pengangkatan beliau akan mensejahterakan masyarakat, it’s totally bullshit!!!! kalau anda berziarah ke makam beliau, perubahan paling mendasar cuma lampu jalan ke lokasi komplek putri - tempat makam beliau - menjadi lebih terang, tapi kalo kita bicara soal sarana transportasi, hm….. no comment, u better try by yourself. contoh paling sederhana, pengangkatan beliau ternyata berbanding terbalik dengan kondisi masyarakat babelan, saya rasa statistik tidak diperlukan disini. bukan berarti saya tidak senang dengan pengangkatan beliau, tapi sayang rasanya nama beliau dipergunakan oleh mereka yang tidak pernah mengenal beliau dan hanya mengejar kepentingan pribadi

ya akhi umam, saya tidak ada maksud apa-apa ketika saya memposting profil beliau di blog ini apalagi untuk mengejar kepentingan pribadi :( Profil beliau saya tampilkan di blog ini hanya karena bentuk rasa cinta saya terhadap para ulama khususnya beliau

mengenai masalah kesejahteraan masyarakat disana kita juga tau deh gimana kondisinya. Untuk memperbaikinya diperlukan usaha dari semua pihak, kita jangan selalu mengandalkan pemerintah (emangnya kalo ada tokoh yang jadi pahlawan Nasional masyarakat sekitarnya jadi makmur di bagi-bagiin duit gitu??? u tau sendirilah gimana pemerintah itu….) . Kita semua kalo ingin sukses ya harus kerja keras dan bekerjasama ya pemerintahnya ya tokoh masyarakatnya ya pola pikir masyarakatnya dll.

fotonya kurang banyak, tambahin lagi donk!

udah tuh bos

AsSaLamu Alaikum.

Fotonya kurang GEDE dan Kurang banyak, foto waktu mudanya ada ngga???.

Was Salam

“Bukan Orang Bekasi kalau ngga kenal dengan KH.M.Noer Ali…”

Saya tau, dan dengar bayak tentang beliau. saya juga lihat Filmnya yang ngga begitu lama tampil di bioskop serta berbagai cerita seputar film tersebut. saya hanya anak kuliahan yang sangat ingin tau tentang sejarah kota bekasi dan pelopor serta pejuang dibelakangnya. bisa tolong ceritakan tentang H.MOH.HUSEIN KAMALY ?? karna saya tau, beliau juga punya andil yang sangat besar pada sejarah berdirinya kota bekasi. trims

Insya Allah jika ada info lengkap saya akan share dengan teman-teman

Ass. Subhanallah…. sy baru kali pertama membuka situs ini, sy sngat terharu membaca biografi dan perjuangan KH. Noer Ali dan Alhamdulillah beliu dianugrahi gelar Pahlawan Nasional, krn sy adalah salahsatu alumnus Ponpes At-taqwa putra Ujung harapan bahagia walaupun tdk sampai tamat, pernah satu ketika (thn. 1989, hari dan tgglnya sy lupa) waktu itu sambil menunggu waktu shalat dzhuhur tiba, sy duduk2 ditangga dekat kolam wudhu masjid (wktu itu ada semacam empang/kobakan dibelakang masjid), disaat sy sdng melamun, tiba-tiba ada yg memegang kepala sy, sy menoleh… dan alangkah kaget sekali sy karna yg memegang kepala sy td ternyata Almaghfur KH. Noer Ali, sy masih ingat dia bilang ke sy ” Lagi ngapain lu tong? Belajar yang bener ya… gua do’ain”. Sy sngt menyesal dan sedih kalau teringat itu semua, kenapa sy tidak sampai lulus mondok disana, penyesalan tdk berguna, Insya Allah sy selalu berdo’a semoga beliu diterima amal ibadahnya….aminnnnn.
Tolong mas Qomar klu punya foto Almaghfur sama alamat alumni At-taqwa kirim ke email sy (ichsan.ruyani@yahoo.com).. trmkash…. Wass…

yUph..yUph…nO cOmmEnt dGn smW yg tLah terJadi..apA Lah aRtinya bEkasi punYa tOkoh PahLawan NasionaL kLo tOh wOng bEkasi gK biSa mELanjutKAn perJuangan iTu… bUkan denGan pERang fiSik, bUt eHmMp..poLa fiKir kiTa mAsih teRjajAh kaLee.. mSih bAnyAk yG sUka gK nyaDar sYeh…sYape biLang skULL tinggI (tP sOmbOng dGn iLmu yg dBrikAn) biSa ngJamin hidup lebih wOnderful..(eHmPp..)?caPpe deyh..dO aCtiveLy think crEatiF, think inovatif, tHink pOsitiF..n Gk sOmbong…tOp dEyh..hehhehe..

hi..dee thanks for your comment :)

ass…
aQ Mia mahasiswa UNESA Surabaya.AQ tau KH>Noer Ali dr cerita teman.TemanQ da di ponpes at-taQwa.karena penasaran jd aQ browsing di internet.Ternyata beliau hebat bgt ya…

Assalamu’alaikum. salam kenal dari ana,ana sangat berterima kasih atas situs ini yang mana sudah memuat profil tentang AL Waliyullah Syeikh KH. Noer Ali. karena beliau seorang yang benar-benar menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. ana bangga kepada beliau yang sudah mau menegakkan ajaran ISLAM dikalangan masyarakat banyak. dan ana berterima kasih kepada Qomar Fauzie melalui situs ini ana bisa mendapatkan profil sekaligus foto beliau. ana ucapkan sukron katsir wa antum bikhoir

oh ya akhi ana lupa kasih tau ternyata KH. Noer Ali dikenalbukan di indonesia saja ternyata beliau dikenal sampai manca negara. ana mohon kalau ada berita penting jangan lupa kasih tau ana ya wa kirim ke e-mail ana ya. sukron katsir

sama-sama bang Ahmad Fauzi, salam kenal dari saya

Assalamu’alaikum Hai ikhwan / akhwat saya mau informasi gimana caranya kita atau saya pengen tau situasi di kota bekasi khususnya di desa kali ilir kelurahan medan satria kalan pejuang terima kasih waaalaikum salam atau tau websetnya.

Leave a response

Your response:

Categories