
Sullamul Istiqomah, Tempat Perayaan Maulid Nabi SAW diadakan
Minggu 13 Mei 2007, perayaan maulid Nabi Muhammad SAW diadakan di ponpes Sullamul Istiqomah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang bertempat di Kaliabang Bungur kelurahan Harapan Jaya Bekasi Utara. Maulid diadakan pada pagi hari pukul 08.00 WIB.
Maulid dimulai dengan pembacaan maulid simtud duror yang kemudian dilanjutkan dengan pembacaan zikir,tahlil, dan tahmid yang dipimpin oleh Drs. H. Abdul Rofiq yakni salah satu tokoh masyarakat di Kaliabang Bungur.
Acara dilanjutkan dengan sambutan dari pihak penyelenggara Maulid sekaligus guru besar kami yaitu pimpinan madrasah Sullamul Istiqomah : Almukarram Al Ustadz KH. Muhammad Ahyat Nur bin KH. Muhammad Nur. Beliau adalah salah satu ulama besar yang paling dihormati dan beliau juga menjadi tokoh masyarakat ditempat kami.

Suasana perayaan Maulid Nabi SAW
Setelah beliau memberikan sambutan maka acara dilanjutkan dengan pembacaan kalam ilahi yang dibacakan oleh Drs. H. Imron Rosadi dan dilanjutkan dengan sambutan dari wakil pemerintah setempat yaitu wakil camat Harapan Jaya.

Habib Hasyim Ubaidillah bin Muhammad Al Bahar
Hikmah maulid pertama disampaikan oleh Habib Hasyim Ubaidillah bin Muhammad Al Bahar. Beliau adalah ulama asli yang berasal dan bertempat tinggal di tempat kami.
Dalam Tausiyahnya beliau memaparkan pentingnya pendidikan agama bagi anak-anak sejak dini. Lebih lanjut beliau menjelaskan pada saat ini para orang tua masih takut menyekolahkan anak-anaknya ke madrasah atau ke lembaga pendidikan yang berbasis agama karena berbagai alasan seperti susah mencari pekerjaan dll.

KH. Muhammad Ahyat Nur sedang beramah tamah dengan para tamu
Padahal pendidikan agama bagi anak-anak sangat penting karena akan bermanfaat baik didunia maupun akherat. Karena dihari kiamat nanti masing-masing kita akan berada dibawah bendera Nabi SAW, keluarganya, sahabat-sahabatnya, para tabi’in, para tabi’it tabi’in hingga sampai kepada guru-guru kita. Jika orang tidak memiliki guru/ulama untuk mengaji siapa yang mau menyelamatkan orang itu dan berada dipihak mana ia karena tidak mempunyai guru??. Itulah sebabnya beliau menambahkan bahwa kita perlu mengaji/berguru dengan para ulama bahkan memandang wajah ulama saja bisa membawa kita masuk ke surga sebab guru kita belajar dengan gurunya lalu gurunya belajar dengan gurunya lagi sampai akhirnya menyambung kepada baginda Nabi Muhammad SAW.
Namun beliau menyarankan kita agar berhati-hati memilih guru/ulama karena pada saat ini banyak orang yang mengaku atau dianggap menjadi ulama dadakan mulai dari artis, pejabat dll. Bahkan keadaan mereka bisa menyesatkan ummat karena kedangkalan ilmu mereka menyebarkan ilmu yang salah. Jadi sekali lagi hati-hati…
Hikmah maulid dilanjutkan oleh Al Ustadz Drs. KH. Toyyib Izzi dari Jakarta. Beliau lebih tegas lagi menjelaskan bahwa saat ini ada gerakan GAM (Gerakan Anti Maulid), GAT(Gerakan Anti Tahlil), GAZ (Gerakan Anti Ziarah), dan GAR (Gerakan Anti Ratib). Oleh karena itu beliau berpesan kepada kita agar berhati-hati dan perlunya usaha “memukul balik” gerakan tersebut dengan pengetahuan ilmu agama yang cukup. Lebih lanjut beliau menambahkan akibat kurangnya ilmu agama dan persatuan yang dimiliki oleh ummat Islam khususnya di Indonesia sehingga ummat Islam di Indonesia tidak bisa menjalankan syariat Islam dengan bebas dan benar. Salah satu contohnya adalah masalah khitan bagi anak perempuan yang dianggap mutilasi dan pelanggaran HAM oleh PBB sehingga dokter dan bidan di Indonesia masih takut untuk melaksanakan khitan ini karena takut akan dikenakan sanksi.

Habib Ali bin Abdullah Al kaff
Hikmah maulid yang terakhir diisi oleh ceramah dari Habib Ali Zaenal Abidin bin Abdullah Al Kaff. Beliau menjelaskan tentang rasa cinta dan kasih sayangnya Nabi Muhammad SAW kepada ummatnya bahkan pada saat akan dicabut nyawanya oleh malaikat Izrail beliau menanyakan ummatnya kepada malaikat Jibril. Baru setelah malaikat Jibril mendapatkan jawaban dari Allah SWT dan menjelaskan kepada Nabi SAW maka beliau baru mengizinkan malaikat Izrail melaksanakan tugasnya.
Begitu besar cinta Nabi kepada ummatnya sampai-sampai pada hari akhir nanti beliaulah yang akan bersujud kepada Allah meminta agar ummatnya diselamatkan dari neraka. Oleh karena itu pantaskah kita nanti mengemis kepada Nabi SAW untuk meminta syafa’atnya? Apakah kita tidak malu bertemu dengan Nabi membawa segudang dosa dan meminta-minta syafa’atnya?. Habib Ali menjelaskan bahwa sudah seharusnya kita nanti pada saat bertemu dengan beliau sudah memiliki “modal” yaitu amal-amal sholeh dan membuat Nabi SAW senang dengan amal-amal kita. Jika ummat sebelum Nabi SAW saja bisa ibadah selama 500 tahun 100 tahun bahkan tanpa maksiat selama itu mengapa kita sebagai ummat Nabi Muhammad SAW tidak ingin membuat Nabi SAW senang dengan amal-amal kita?
Beliau mencontohkan Rabi’atul Adawiyyah yang dalam semalam sholatnya sebanyak 1000 rakaat. Ketika ditanya mengapa sholat sebanyak itu? Rabi’ah menjelaskan bahwa ia ibadah seperti itu bukan karena takut masuk neraka atau ingin mendapatkan pahala tetapi karena ia ingin membanggakan dan membahagiakan perasaan Nabi SAW. Sehingga ia nanti tidak malu bertemu dengan Nabi SAW malah ia ingin membuat Nabi SAW senang dan bahagia karena amal ibadahnya. Subhanallah…
Selesai memberikan hikmah maulid, acara dilanjutkan dengan doa penutup yang dibacakan oleh KH. Amin Nur LC, MA.
Beliau adalah pimpinan ponpes At-Taqwa Bekasi sekaligus putra dari alm. KH. Noer Ali yaitu tokoh ulama asli dari Bekasi yang baru saja diangkat menjadi pahlawan nasional oleh pemerintah Indonesia (baca : http://qomarfauzie.wordpress.com/2007/01/02/kh-noer-ali-putra-betawi-yang-menjadi-pahlawan-nasional/ ) .



Panitia membagikan nasi kebuli kepada para jamaah maulid…mmmm…
Setelah doa penutup dibacakan maulid diakhiri dengan pembagian konsumsi nasi kebuli kepada para jamaah maulid… mmmm… yummmyy



Jamaah dari berbagai penjuru berbondong-bondong menghadiri Maulid Nabi SAW
Alhamdulillah maulid berjalan dengan lancar. Bahkan jamaah yang hadir pun lebih banyak dari tahun yang lalu. Semoga maulid tahun depan lebih sukses lagi. Amin.





Maulid Nabi Muhammad SAW terkadang Maulid Nabi atau Maulud saja (bahasa Arab: مولد، مولد النبي), adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW, yang dalam tahun Hijriyah jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal. Kata maulid atau milad adalah dalam bahasa Arab berarti hari lahir. Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Secara subtansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Rasulullah Muhammad SAW.
Sejarah
Perayaan Maulid Nabi diperkirakan pertama kali diperkenalkan oleh Abu Said al-Qakburi, seorang gubernur Irbil, di Irak, pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (1138-1193). Adapula yang berpendapat bahwa idenya sendiri justru berasal dari Sultan Salahuddin sendiri. Tujuannya adalah untuk membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, serta meningkatkan semangat juang kaum muslimin saat itu, yang sedang terlibat dalam Perang Salib melawan pasukan Kristen Eropa dalam upaya memperebutkan kota Yerusalem.
Perayaan di Indonesia
Masyarakat muslim di Indonesia umumnya menyambut Maulid Nabi dengan mengadakan perayaan-perayaan keagamaan seperti pembacaan shalawat nabi, pembacaan syair Barzanji dan pengajian. Menurut penanggalan Jawa bulan Rabiul Awal disebut bulan Mulud, dan acara Muludan juga dirayakan dengan perayaan dan permainan gamelan Sekaten.
Perayaan di luar negeri
Sebagian masyarakat muslim Sunni dan Syiah di dunia merayakan Maulid Nabi. Muslim Sunni merayakannya pada tanggal 12 Rabiul Awal sedangkan muslim Syiah merayakannya pada tanggal 17 Rabiul Awal, yang juga bertepatan dengan ulang tahun Imam Syiah yang keenam, yaitu Imam Ja’far ash-Shadiq.
Perbedaan pendapat
Kaum ulama yang berpaham Salafiyah dan Wahhabi, umumnya tidak merayakannya karena menganggap perayaan Maulid Nabi merupakan sebuah Bid’ah, yaitu kegiatan yang bukan merupakan ajaran Nabi Muhammad SAW. Mereka berpendapat bahwa kaum muslim yang merayakannya keliru dalam menafsirkannya sehingga keluar dari esensi kegiatannya.
Referensi
Peringatan Maulid Nabi SAW, Agar Tidak Menjadi Tradisi dan Seremoni Belaka. Hizbut Tahrir Indonesia. Bulletin Al-Islam, hal 1, Edisi 348/Tahun XIV, tahun 2007.
By: leleth on June 19, 2007
at 4:32 am
Maulid itu memang bid’ah namun bid’ah hasanah. Mereka yang menuduh orang yang merayakan maulid itu sesat adalah akibat dangkalnya ilmu mereka.
Kalau mau dijelaskan tentang perlunya merayakan maulid mungkin akan panjang penjelasannya boss…yang jelas perbedaan pendapat itu pasti ada diantara kita namun perbedaan itu jangan sampai saling menuduh antara satu sama lain karena kita satu sudara.
Coba kita liat banyak para ulama atau habaib yang merayakan maulid. Apakah mereka berarti sesat?? padahal mereka termasuk golongan orang-orang sholeh yang cendikiawan yang hafal bgitu banyak hadits, dzikir dan sholatnya lebih banyak dari kita.
kenapa orang yang baru kemaren sore berani-beraninya menuduh para habaib/ulama yang merayakan maulid sebagai orang yang keliru/sesat?
Prof. DR. Qurais Shihab pernah menjelaskan soal maulid di Metro TV beliau menjelaskan jika mau bicara soal bid’ah maka mushaf Al-Qur’an pun termasuk bid’ah karena pada zaman Nabi SAW tidak diajarkan/dilakukan.
By: qomarfauzie on June 19, 2007
at 6:10 am
Rasulullah SAW seorang yang rendah hati dan selalu hidup sederhana, salah satu rasul yang paling mulia yang diutus Allah untuk menyelamatkan manusia dari rusaknya moral dan salahnya keyakinan, mengajarkan manusia menjadi makhluk pintar yang tidak hanya mengagumi dan menikmati ciptaan Allah tapi mampu memanfaatkanya untuk kehidupan yang lebih baik. Peringatan maulid dianggap bidah salah satu sebabnya (mungkin) karena dianggap hanya sebuah seremonial dan tidak menyentuh hal yang begitu penting yaitu kembali membumikan secara utuh pesan yang Rasulullah ajarkan.
By: leleth on June 20, 2007
at 8:43 am
Saudaraku, coba antum liat lagi penjelasan tentang bid’ah. Berikut ana kutip dari penjelasan yang mulia habib Munzir di websitenya (http://majelisrasulullah.org)
BID’AH
I. Nabi saw memperbolehkan berbuat bid’ah hasanah.
Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw: “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah hasanah dan Bid’ah dhalalah.
Perhatikan hadits beliau saw, bukankah beliau saw menganjurkan?, maksudnya bila kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru yg membuat kebaikan atas islam maka perbuatlah.., alangkah indahnya bimbingan Nabi saw yg tidak mencekik ummat, beliau saw tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tapi ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman, modernisasi, kematian ulama, merajalela kemaksiatan, maka tentunya pastilah diperlukan hal-hal yg baru demi menjaga muslimin lebih terjaga dalam kemuliaan, demikianlah bentuk kesempurnaan agama ini, yg tetap akan bisa dipakai hingga akhir zaman, inilah makna ayat : “ALYAUMA AKMALTU LAKUM DIINUKUM..dst, “hari ini Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, kusempurnakan pula kenikmatan bagi kalian, dan kuridhoi islam sebagai agama kalian”, maksudnya semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat lain demi memperbaiki agama ini, semua hal yg baru selama itu baik sudah masuk dalam kategori syariah dan sudah direstui oleh Allah dan rasul Nya, alangkah sempurnanya islam.
Namun tentunya bukan membuat agama baru atau syariat baru yg bertentangan dengan syariah dan sunnah Rasul saw, atau menghalalkan apa-apa yg sudah diharamkan oleh Rasul saw atau sebaliknya, inilah makna hadits beliau saw : “Barangsiapa yg membuat buat hal baru yg berupa keburukan…dst”, inilah yg disebut Bid’ah Dhalalah. Beliau saw telah memahami itu semua, bahwa kelak zaman akan berkembang, maka beliau saw memperbolehkannya (hal yg baru berupa kebaikan), menganjurkannya dan menyemangati kita untuk memperbuatnya, agar ummat tidak tercekik dengan hal yg ada dizaman kehidupan beliau saw saja, dan beliau saw telah pula mengingatkan agar jangan membuat buat hal yg buruk (Bid’ah dhalalah).
Mengenai pendapat yg mengatakan bahwa hadits ini adalah khusus untuk sedekah saja, maka tentu ini adalah pendapat mereka yg dangkal dalam pemahaman syariah, karena hadits diatas jelas-jelas tak menyebutkan pembatasan hanya untuk sedekah saja, terbukti dengan perbuatan bid’ah hasanah oleh para Sahabat dan Tabi’in.
II. Siapakah yg pertama memulai Bid’ah hasanah setelah wafatnya Rasul saw?
Ketika terjadi pembunuhan besar-besaran atas para sahabat (Ahlul yamaamah) yg mereka itu para Huffadh (yg hafal) Alqur’an dan Ahli Alqur’an di zaman Khalifah Abubakar Asshiddiq ra, berkata Abubakar Ashiddiq ra kepada Zeyd bin Tsabit ra : “Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an, lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis Alqur’an, aku berkata : Bagaimana aku berbuat suatu hal yg tidak diperbuat oleh Rasulullah..??, maka Umar berkata padaku bahwa Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar, dan engkau (zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Alqur’an dan tulislah Alqur’an..!” berkata Zeyd : “Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung daripada gunung-gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan Alqur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yg tak diperbuat oleh Rasulullah saw??”, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur’an”. (Shahih Bukhari hadits no.4402 dan 6768).
Nah saudaraku, bila kita perhatikan konteks diatas Abubakar shiddiq ra mengakui dengan ucapannya : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”, hatinya jernih menerima hal yg baru (bid’ah hasanah) yaitu mengumpulkan Alqur’an, karena sebelumnya alqur’an belum dikumpulkan menjadi satu buku, tapi terpisah-pisah di hafalan sahabat, ada yg tertulis di kulit onta, di tembok, dihafal dll, ini adalah Bid’ah hasanah, justru mereka berdualah yg memulainya.
Kita perhatikan hadits yg dijadikan dalil menafikan (menghilangkan) Bid’ah hasanah mengenai semua bid’ah adalah kesesatan, diriwayatkan bahwa Rasul saw selepas melakukan shalat subuh beliau saw menghadap kami dan menyampaikan ceramah yg membuat hati berguncang, dan membuat airmata mengalir.., maka kami berkata : “Wahai Rasulullah.. seakan-akan ini adalah wasiat untuk perpisahan…, maka beri wasiatlah kami..” maka rasul saw bersabda : “Kuwasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengarkan dan taatlah walaupun kalian dipimpin oleh seorang Budak afrika, sungguh diantara kalian yg berumur panjang akan melihat sangat banyak ikhtilaf perbedaan pendapat, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’urrasyidin yg mereka itu pembawa petunjuk, gigitlah kuat kuat dengan geraham kalian (suatu kiasan untuk kesungguhan), dan hati-hatilah dengan hal-hal yg baru, sungguh semua yg Bid’ah itu adalah kesesatan”. (Mustadrak Alasshahihain hadits no.329).
Jelaslah bahwa Rasul saw menjelaskan pada kita untuk mengikuti sunnah beliau dan sunnah khulafa’urrasyidin, dan sunnah beliau saw telah memperbolehkan hal yg baru selama itu baik dan tak melanggar syariah, dan sunnah khulafa’urrasyidin adalah anda lihat sendiri bagaimana Abubakar shiddiq ra dan Umar bin Khattab ra menyetujui bahkan menganjurkan, bahkan memerintahkan hal yg baru, yg tidak dilakukan oleh Rasul saw yaitu pembukuan Alqur’an, lalu pula selesai penulisannya dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra, dengan persetujuan dan kehadiran Ali bin Abi Thalib kw.
Nah.. sempurnalah sudah keempat makhluk termulia di ummat ini, khulafa’urrasyidin melakukan bid’ah hasanah, Abubakar shiddiq ra dimasa kekhalifahannya memerintahkan pengumpulan Alqur’an, lalu kemudian Umar bin Khattab ra pula dimasa kekhalifahannya memerintahkan tarawih berjamaah dan seraya berkata : “Inilah sebaik-baik Bid’ah!”(Shahih Bukhari hadits no.1906) lalu pula selesai penulisan Alqur’an dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra hingga Alqur’an kini dikenal dengan nama Mushaf Utsmaniy, dan Ali bin Abi Thalib kw menghadiri dan menyetujui hal itu. Demikian pula hal yg dibuat-buat tanpa perintah Rasul saw adalah dua kali adzan di Shalat Jumat, tidak pernah dilakukan dimasa Rasul saw, tidak dimasa Khalifah Abubakar shiddiq ra, tidak pula dimasa Umar bin khattab ra dan baru dilakukan dimasa Utsman bn Affan ra, dan diteruskan hingga kini (Shahih Bulkhari hadits no.873).
Siapakah yg salah dan tertuduh?, siapakah yg lebih mengerti larangan Bid’ah?, adakah pendapat mengatakan bahwa keempat Khulafa’urrasyidin ini tak faham makna Bid’ah?
III. Bid’ah Dhalalah
Jelaslah sudah bahwa mereka yg menolak bid’ah hasanah inilah yg termasuk pada golongan Bid’ah dhalalah, dan Bid’ah dhalalah ini banyak jenisnya, seperti penafikan sunnah, penolakan ucapan sahabat, penolakan pendapat Khulafa’urrasyidin, nah…diantaranya adalah penolakan atas hal baru selama itu baik dan tak melanggar syariah, karena hal ini sudah diperbolehkan oleh Rasul saw dan dilakukan oleh Khulafa’urrasyidin, dan Rasul saw telah jelas-jelas memberitahukan bahwa akan muncul banyak ikhtilaf, berpeganglah pada Sunnahku dan Sunnah Khulafa’urrasyidin, bagaimana Sunnah Rasul saw?, beliau saw membolehkan Bid’ah hasanah, bagaimana sunnah Khulafa’urrasyidin?, mereka melakukan Bid’ah hasanah, maka penolakan atas hal inilah yg merupakan Bid’ah dhalalah, hal yg telah diperingatkan oleh Rasul saw.
Bila kita menafikan (meniadakan) adanya Bid’ah hasanah, maka kita telah menafikan dan membid’ahkan Kitab Al-Quran dan Kitab Hadits yang menjadi panduan ajaran pokok Agama Islam karena kedua kitab tersebut (Al-Quran dan Hadits) tidak ada perintah Rasulullah saw untuk membukukannya dalam satu kitab masing-masing, melainkan hal itu merupakan ijma/kesepakatan pendapat para Sahabat Radhiyallahu’anhum dan hal ini dilakukan setelah Rasulullah saw wafat.
Buku hadits seperti Shahih Bukhari, shahih Muslim dll inipun tak pernah ada perintah Rasul saw untuk membukukannya, tak pula Khulafa’urrasyidin memerintahkan menulisnya, namun para tabi’in mulai menulis hadits Rasul saw. Begitu pula Ilmu Musthalahulhadits, Nahwu, sharaf, dan lain-lain sehingga kita dapat memahami kedudukan derajat hadits, ini semua adalah perbuatan Bid’ah namun Bid’ah Hasanah. Demikian pula ucapan “Radhiyallahu’anhu” atas sahabat, tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah saw, tidak pula oleh sahabat, walaupun itu di sebut dalam Al-Quran bahwa mereka para sahabat itu diridhoi Allah, namun tak ada dalam Ayat atau hadits Rasul saw memerintahkan untuk mengucapkan ucapan itu untuk sahabatnya, namun karena kecintaan para Tabi’in pada Sahabat, maka mereka menambahinya dengan ucapan tersebut. Dan ini merupakan Bid’ah Hasanah dengan dalil Hadits di atas, Lalu muncul pula kini Al-Quran yang di kasetkan, di CD kan, Program Al-Quran di handphone, Al-Quran yang diterjemahkan, ini semua adalah Bid’ah hasanah. Bid’ah yang baik yang berfaedah dan untuk tujuan kemaslahatan muslimin, karena dengan adanya Bid’ah hasanah di atas maka semakin mudah bagi kita untuk mempelajari Al-Quran, untuk selalu membaca Al-Quran, bahkan untuk menghafal Al-Quran dan tidak ada yang memungkirinya.
Sekarang kalau kita menarik mundur kebelakang sejarah Islam, bila Al-Quran tidak dibukukan oleh para Sahabat ra, apa sekiranya yang terjadi pada perkembangan sejarah Islam ? Al-Quran masih bertebaran di tembok-tembok, di kulit onta, hafalan para Sahabat ra yang hanya sebagian dituliskan, maka akan muncul beribu-ribu Versi Al-Quran di zaman sekarang, karena semua orang akan mengumpulkan dan membukukannya, yang masing-masing dengan riwayatnya sendiri, maka hancurlah Al-Quran dan hancurlah Islam. Namun dengan adanya Bid’ah Hasanah, sekarang kita masih mengenal Al-Quran secara utuh dan dengan adanya Bid’ah Hasanah ini pula kita masih mengenal Hadits-hadits Rasulullah saw, maka jadilah Islam ini kokoh dan Abadi, jelaslah sudah sabda Rasul saw yg telah membolehkannya, beliau saw telah mengetahui dengan jelas bahwa hal hal baru yg berupa kebaikan (Bid’ah hasanah), mesti dimunculkan kelak, dan beliau saw telah melarang hal-hal baru yg berupa keburukan (Bid’ah dhalalah).
Saudara-saudaraku, jernihkan hatimu menerima ini semua, ingatlah ucapan Amirulmukminin pertama ini, ketahuilah ucapan ucapannya adalah Mutiara Alqur’an, sosok agung Abubakar Ashiddiq ra berkata mengenai Bid’ah hasanah : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”.
Lalu berkata pula Zeyd bin haritsah ra :”..bagaimana kalian berdua (Abubakar dan Umar) berbuat sesuatu yg tak diperbuat oleh Rasulullah saw??, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun(Abubakar ra) meyakinkanku (Zeyd) sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua”.
Maka kuhimbau saudara-saudaraku muslimin yg kumuliakan, hati yg jernih menerima hal-hal baru yg baik adalah hati yg sehati dengan Abubakar shiddiq ra, hati Umar bin Khattab ra, hati Zeyd bin haritsah ra, hati para sahabat, yaitu hati yg dijernihkan Allah swt, Dan curigalah pada dirimu bila kau temukan dirimu mengingkari hal ini, maka barangkali hatimu belum dijernihkan Allah, karena tak mau sependapat dengan mereka, belum setuju dengan pendapat mereka, masih menolak bid’ah hasanah, dan Rasul saw sudah mengingatkanmu bahwa akan terjadi banyak ikhtilaf, dan peganglah perbuatanku dan perbuatan khulafa’urrasyidin, gigit dengan geraham yg maksudnya berpeganglah erat-erat pada tuntunanku dan tuntunan mereka.
Allah menjernihkan sanubariku dan sanubari kalian hingga sehati dan sependapat dengan Abubakar Asshiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib kw dan seluruh sahabat.. amiin.
IV. Pendapat para Imam dan Muhadditsin mengenai Bid’ah
1. Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Idris Assyafii rahimahullah (Imam Syafii)
Berkata Imam Syafii bahwa bid’ah terbagi dua, yaitu bid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madzmumah (tercela), maka yg sejalan dengan sunnah maka ia terpuji, dan yg tidak selaras dengan sunnah adalah tercela, beliau berdalil dengan ucapan Umar bin Khattab ra mengenai shalat tarawih : “inilah sebaik baik bid’ah”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 86-87)
2. Al Imam Al Hafidh Muhammad bin Ahmad Al Qurtubiy rahimahullah
“Menanggapi ucapan ini (ucapan Imam Syafii), maka kukatakan (Imam Qurtubi berkata) bahwa makna hadits Nabi saw yg berbunyi : “seburuk-buruk permasalahan adalah hal yg baru, dan semua Bid’ah adalah dhalalah” (wa syarrul umuuri muhdatsaatuha wa kullu bid’atin dhalaalah), yg dimaksud adalah hal-hal yg tidak sejalan dengan Alqur’an dan Sunnah Rasul saw, atau perbuatan Sahabat radhiyallahu ‘anhum, sungguh telah diperjelas mengenai hal ini oleh hadits lainnya : “Barangsiapa membuat buat hal baru yg baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya” (Shahih Muslim hadits no.1017) dan hadits ini merupakan inti penjelasan mengenai bid’ah yg baik dan bid’ah yg sesat”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 87)
3. Al Muhaddits Al Hafidh Al Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawiy rahimahullah (Imam Nawawi)
“Penjelasan mengenai hadits : “Barangsiapa membuat-buat hal baru yg baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yg dosanya”, hadits ini merupakan anjuran untuk membuat kebiasaan kebiasaan yg baik, dan ancaman untuk membuat kebiasaan yg buruk, dan pada hadits ini terdapat pengecualian dari sabda beliau saw : “semua yg baru adalah Bid’ah, dan semua yg Bid’ah adalah sesat”, sungguh yg dimaksudkan adalah hal baru yg buruk dan Bid’ah yg tercela”. (Syarh Annawawi ‘ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105)
Dan berkata pula Imam Nawawi bahwa Ulama membagi bid’ah menjadi 5, yaitu Bid’ah yg wajib, Bid’ah yg mandub, bid’ah yg mubah, bid’ah yg makruh dan bid’ah yg haram. Bid’ah yg wajib contohnya adalah mencantumkan dalil-dalil pada ucapan ucapan yg menentang kemungkaran, contoh bid’ah yg mandub (mendapat pahala bila dilakukan dan tak mendapat dosa bila ditinggalkan) adalah membuat buku buku ilmu syariah, membangun majelis taklim dan pesantren, dan Bid;ah yg Mubah adalah bermacam-macam dari jenis makanan, dan Bid’ah makruh dan haram sudah jelas diketahui, demikianlah makna pengecualian dan kekhususan dari makna yg umum, sebagaimana ucapan Umar ra atas jamaah tarawih bahwa inilah sebaik2 bid’ah”. (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 6 hal 154-155)
4. Al Hafidh AL Muhaddits Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy rahimahullah
Mengenai hadits “Bid’ah Dhalalah” ini bermakna “Aammun makhsush”, (sesuatu yg umum yg ada pengecualiannya), seperti firman Allah : “… yg Menghancurkan segala sesuatu” (QS Al Ahqaf 25) dan kenyataannya tidak segalanya hancur, (*atau pula ayat : “Sungguh telah kupastikan ketentuanku untuk memenuhi jahannam dengan jin dan manusia keseluruhannya” QS Assajdah-13), dan pada kenyataannya bukan semua manusia masuk neraka, tapi ayat itu bukan bermakna keseluruhan tapi bermakna seluruh musyrikin dan orang dhalim.pen) atau hadits : “aku dan hari kiamat bagaikan kedua jari ini” (dan kenyataannya kiamat masih ribuan tahun setelah wafatnya Rasul saw) (Syarh Assuyuthiy Juz 3 hal 189).
Maka bila muncul pemahaman di akhir zaman yg bertentangan dengan pemahaman para Muhaddits maka mestilah kita berhati-hati darimanakah ilmu mereka?, berdasarkan apa pemahaman mereka?, atau seorang yg disebut imam padahal ia tak mencapai derajat hafidh atau muhaddits?, atau hanya ucapan orang yg tak punya sanad, hanya menukil-menukil hadits dan mentakwilkan semaunya tanpa memperdulikan fatwa-fatwa para Imam?
Walillahittaufiq
By: qomarfauzie on June 20, 2007
at 9:06 am
Jdi yang dimaksud bidah yg sebenarnya & dari mana muncul klasifikasi antara bidah hasanah dengan dolalah, bidah adalah bidah.
By: leleth on June 21, 2007
at 10:14 am
Walaupun ibadahnya 1000 tahun Namun tidak mencintai Baginda Nabi S.A.W Faqod Bathola(Sungguh telah Gugur) ….. Peringatan Maulid adalah salah satu Ekspresi atau bukti cinta kita kepada Baginda Nabi S.A.W. Untuk bisa merasakan untuk bisa mencintai Nabi, kita banyak belajar dan cari pengetahuan yang dalam kepada Juriyyah nya …. Jadi tidak lagi akan ada perdebatan mengenai bid’ah lagi, karena yang ada kesejukan dan kedamaian di hati disaat membaca maulid seperti Ad-dhibai,simtuduror,barjanji atau diyau lami…. sekarang sudah tidak jaman debatin masalah bid’ah mengenai maulid. Jadi berhati-hati bila membicarakan peringatan maulid itu tidak baik(karena tidak akan dapat syafaat dariNya buat kita yang tidak Mencinta RASULLUAH S.AW). Kita tercipta dan hidup karena adanya Rasulluah S.A.W. dan Baginda Nabi Tidak pernah Mati Sampai sekarang, karena beliau ada didalam diri kita(…Anna Fiykum Rasulun..) !!!!!! … Sholluw ala Nabi ……
By: Luthfi on June 22, 2007
at 3:25 am
Blog ini ana buat agar kita s’mua dapat mencinta Nabi SAW dan juga untuk saling menjalin rasa ukhuwah antara sesama kita bukan jadi ajang saling debat
Jadi ana setuju ma luthfi…topik bid’ah sebaiknya kita close aja karena sebenarnya semuanya sudah jelas dan ga bakalan abis-abis kalo dibahas dengan orang yang berbeda pendapat.
Kalo mo “perang-perangan” di blog lain aja soalnya masih banyak ko disediakan, So jangan disini yaa…
By: qomarfauzie on June 22, 2007
at 3:39 am
Setuju jika peringatan maulid digunakan sebagai salah satu sarana ekspresi untuk meningkatkan cinta kepada Nabi SAW dan mengingatkan kembali bahwa Nabi SAW adalah teladan bagi seluruh umat manusia dan dengan syafaat beliaulah seorang bisa masuk surga, perlu diingat juga melaksanakan dengan seutuhnya apa yang beliau telandankan kepada umat manusia merupakan bukti paling nyata kecintaan kepada Nabi SAW.
By: leleth on June 22, 2007
at 9:43 am
Setuju….
Bagaimana upaya untuk syiar Islam dan bakar semangat dakwah Islam
kalau ukhuwah islamiah melalui Maulid sering di kecam bid’ah.
Pelaksanaan maulid di Sullamul Istiqomah setidak-tidaknya memberikan gambaran bahwa umat Islam butuh adanya masukan bagaimana berprilaku dan berakhlakul karimah…
Namun…. perlu kami informasikan, kita turut berduka cita atas meninggalnya ulama besar di kota bekasi. Meskipun kita telah ditinggalkan oleh pimpinan pesantren sullamul istiqomah Almarhum KH. M. Ahyad Noer bin KH. Moh. Noer hari rabu jam 09.30 WIB di RS. Husada.
Muda-mudahan, ruh KH. Ahyad Noer mendapatkan ganjaran sesuai dengan amal ibadahnya.
Aktivitas merayakan Maulid Nabi mudah-mudahan semakin berkibar tidak hanya di kota bekasi melainkan di seluruh Indonesia.
“barang siapa yang mengagungkan maulid Nabi maka sungguh dia telah menghidupkan Islam (syiar Islam)”, Semoga
Al-faqir.
Muhammad Zen, S.Ag, Lc, MA
Salah satu alumni Sullamul istiqomah
By: muhammad zen, S.Ag, Lc, MA on August 3, 2007
at 9:44 am
bang Muhammad Zein…terima kasih sudah mampir ke blog saya.
Muhammad Zein adalah salah satu da’i muda yang aktif di lingkungan kami.
Teruskan perjuangan mu bang, teruskan cita-cita guru kita untuk terus berdakwah
By: qomarfauzie on August 3, 2007
at 10:30 am
o iya hampir lupa berita tentang meninggalnya guru besar kita sudah saya tulis di blog ini :
http://qomarfauzie.wordpress.com/2007/08/03/telah-meninggal-dunia-al-ustadz-kh-muhammad-ahyat-nur/
By: qomarfauzie on August 3, 2007
at 10:32 am
Assalaamu ‘alaikum
Akhii qomar…
Syukr
Terima kasih…mudah2-an blog yg akhi buat ini menjadi tali pemersatu Aqidah yg benar….Aqidah AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH sesuai dengan yg diajarkan Maha guru Al-Maghfur Al-Walid Al-Ustadz K.H Mohammad Ahyad Nur , Banyak pesan dan nasihat yang telah beliau sampaikan…salah satu nya yg selalu ana ingat adalah “…Hiasilah hidupmu dengan Sholawat , alangkah sombong nya manusia yg berat mengucapkan nya ketika semua makhluk bersholawat kepada-Nya ( Rosullulloh S.A.W )…”
Satu Hal….Islam hancur bukan karena dari luar
tapi dari dalam diri ummat islam sendiri
Sekali lagi…Jaga Aqidah kita
Jazaakalloh khair
Ma’assalaamah
Alfqr ,
Alumni Ma’had Sullamul Istiqomah
By: Abdul Khoir on August 8, 2007
at 3:27 am
Wa’alaikum Salam akhii Abdul Khoir salah satu alumni Sullamul Istiqomah, mudah-mudahan blog ana ini dapat mempererat rasa persatuan dan persaudaraan kita sesama Ahlu Sunnah Wal Jamaah. Sudah banyak ulama-ulama besar yang telah meninggalkan kita semoga ini menjadi momen kebangkitan kita kaum muda khususnya untuk menjaga aqidah kita.
Syukron atas kunjungannya ya akhii
By: qomarfauzie on August 9, 2007
at 2:16 am
assalamu ‘alaikum
saya juga turut berduka cita atas meninggalnya guru kita al-ustadz K.H Mohammad Ahyad Nur semoga amal ibadah beliau di terima di sisi ALLAH SWT amin.
By: anisah rosmiati on August 9, 2007
at 8:13 am
Bid’ah hasanah yang bagaimana….???
Kalau sekiranya perbuatan itu baik, tentulah para sahabat yang melaksanakannnya terlebih dahulu
harus ada dalilnya dong untuk mengatakan bahwa maulid itu adalah baik..
By: Deden on August 15, 2007
at 1:13 am
to sdr. Deden maaf ya…kalo baca comment-comment diatas harusnya nt udah ngerti gitu..
tapi sekali lagi ana ga mau terpancing ma comment dari nt
So, kalo mo debat silakan nt cari blog lain aja…
sebab sepintar apapun analisis dari nt tetap kami Insya Allah tidak akan terpengaruh dari omongan-omongan nt alias…GA NGEFEK GITU LOH
By: qomarfauzie on August 15, 2007
at 2:26 am
Oh, nggak anti-maulid ya? Lagunya mau juga dong? Nih: http://ahmadabdulhaq.multiply.com/music/item/391
By: Ahmad Abdul Haq on March 18, 2008
at 5:07 am
[...] sama seperti maulid pada tahun sebelumnya, pada tanggal 4 Mei 2008 ma’had Sullamul Istiqomah telah mengadakan peringatan Maulid Nabi [...]
By: Maulid Nabi SAW di ma’had Sullamul Istiqomah 2008 « [Qo___m@___R] VS [F4___UZ___I] on May 7, 2008
at 10:02 am
ponpes attqwa keren.
pengen bgt deh maen kesana.
kasih tau alamatnya dunk.
By: mia on June 20, 2008
at 3:15 am
[...] sama seperti maulid pada tahun sebelumnya, pada tanggal 4 Mei 2008 ma’had Sullamul Istiqomah telah mengadakan peringatan Maulid Nabi [...]
By: -=:MAHABHARATA:=- » Blog Archive » Maulid Nabi SAW di ma’had Sullamul Istiqomah 2008 on September 14, 2008
at 5:26 pm
assalamualaikum
1. mas qomarfauzie ana tanya
dari alquran almaidah antum menafsirkan semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat lain demi memperbaiki agama ini, semua hal yg baru selama itu baik sudah masuk dalam kategori syariah dan sudah direstui oleh Allah dan rasul Nya, alangkah sempurnanya islam” ini tafsir quran dari ulama mana ya mas?
2. mas.. kalo misalnya ada bidah hasanah, itu standart baik itu menurut siapa..,kalo ulama..ulama siapa?baik dalam kategori syariah itu seperti apa?
3. maaf nanya lagi
bedanya suatu perkara yang hanya bersifat duniawiah (kepentingan maslahat mursalah dalam agama) dengan bidah hasanah
sukron ya mas
wasallam..
By: daksa on April 4, 2009
at 11:28 am
Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,
Yth mas Daksa, jika masih ada keraguan atau ada hal yang ingin Anda tanyakan, sebaiknya Anda cari jawaban tersebut di majelis-majelis ilmu atau majelis ta’lim. Utarakanlah kepada guru-guru (ulama) Anda terhadap apa yang Anda belum mengerti.
Saya hanyalah hamba Allah yang dhoif yang miskin ilmu, tak layak untuk menjawab pertanyaan dari Anda karena berisiko terjadinya bias pemahaman antara saya dan Anda.
Jadi, mari kita sama-sama mengikuti jalan yang diajarkan oleh guru kita masing-masing. Kita masih saudara, marilah saling mengasihi, menyayangi, berbaik sangka dan saling mendoakan.
Akhirul kalam semoga kita semua mendapat hidayah dari Allah SWT.
Wallahu a’lam
Wassalamu’alaikum
By: Qomar Fauzie on April 4, 2009
at 4:50 pm
yo wis mas terima kasih..
ana juga perlu banyak belajar ni
was..:)
By: daksa on April 5, 2009
at 2:09 am
makasih juga atas kunjungannya, salam kenal
By: Qomar Fauzie on April 5, 2009
at 12:27 pm
untuk yang anti maulid…. Trus knp mesti membid’ah kan maulid…? udah tau mauli bid’ah… TAPI BID’AH yg HASANAH…! udahlah ente” yang anti maulid,tahlil & Ziaroh kubur diem aje….klo tidak dengan BAROKAH MAULID pastii dong maulid udah tidak ada lagi….TAPI apa Maulid Malah bertambah di setiap pelosok kota,kampung maupun desa..,lagi pula ILMU ape yg ente punya seh bilang BID’AH itu maulid…? MAKA nya ENTE BELAJAR (TA’LIM/PESANTREN)
maka nya klo BELAJAR jangan lwt BUKU…., ENTE YG ANTI MAULID….ENTE BISA SEBUTIN SILSILAH GURU ENTE BELAJAR….( BUKAN SILSILAH KELUARGA GURU) ?
BILANG SAMA GURU ENTE APA ARTI BID’AH….. klo ente bilang maulid pake bahasa arab trus perkataan BID’AH itu BAHASA apa…(ARAB/INDONESIA)….?
SEPINTAR APE ENTE seh yg ANTI MAULID SAMA AL IMAM JAFAR ARBARJANJI, AL IMAM ALI BIN MUHAMMAD AL HABSYI….? TAQWAAN MANE SEH ENTE SAMA MEREKA….?
By: iskandar z on June 19, 2009
at 7:42 pm
Assalamualaikum
hehehehe..mari bangkit wahai pemuda/i untuk terus memakmurkan Maulid Nabi SAW
By: Budi suci on July 16, 2009
at 6:59 pm
wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh, ahlan wasahlan bang Budi suci, udah lama ni ngga nongol di milis hehehehe
By: Qomar Fauzie on July 19, 2009
at 10:39 am